Menarik sekali menyimak "fenomena"(bahkan pengumumannya saja disiarkan oleh seluruh stasiun televisi) kenaikan harga minyak yang dilakukan pemerintah. Dari berbagai aspek yang saya pahami menaikan harga minyak adalah sebuah keputusan yang paling tepat dari serangkaiaan kebijakan yang bisa diambil oleh pemerintah, walaupun ini berarti mempertaruhkan keberlangsungan dan eksistensi kepemimpinan SBY di tahun 2009 mendatang, karena bukan kebijakan yang populis dan bisa menjadi amunisi pesaingnya untuk memperebutkan kursi RI-1.
Dari dana penghematan karena pemotongan subsidi untuk BBM pemerintah akan menyalurkan/mengembalikan pada yang membutuhkan dalam berbagai skema, antara lain yang sebagaimana di beritahukan pemerintah adalah melalui mekanisme Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan mensubsidi sektor-sektor yang menyentuh masyarakat miskin melalui peningkatan belanja sektor-sektor tersebut, antara lain pendidikan, kesehatan dan program-program sosial lainnya. Tentu ini mencerminkan redistribusi subsidi dari subsidi barang ke subsidi orang dan tentunya lebih efektif, lebih menyentuh masyarakat miskin.
Namun memberikan bantuan secara cash pada masyarakat merupakan langkah yang terkesan panik, politis dan kurang mau repot sekaligus, untuk meredam kontraksi yang ditimbulkan oleh kenaikan harga minyak harusnya pemerintah menjamin masyarakat dengan memberi kompensasi pada barang atau jasa yang dikonsumsi oleh orang miskin, seperti subsidi pangan pada sembako, transportasi juga merupakan jasa yang lebih banyak dinikmati rakyat. Hal ini juga akan dirasakan oleh rakyat secara signifikan dibanding pemberian uang BLT yang akan menguap karena tergerus oleh tingginya harga sembako, tingginya ongkos ankutan umum dan meroketnya inflasi. tentu seperti halnya menggarami air laut.
Dari dana penghematan karena pemotongan subsidi untuk BBM pemerintah akan menyalurkan/mengembalikan pada yang membutuhkan dalam berbagai skema, antara lain yang sebagaimana di beritahukan pemerintah adalah melalui mekanisme Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan mensubsidi sektor-sektor yang menyentuh masyarakat miskin melalui peningkatan belanja sektor-sektor tersebut, antara lain pendidikan, kesehatan dan program-program sosial lainnya. Tentu ini mencerminkan redistribusi subsidi dari subsidi barang ke subsidi orang dan tentunya lebih efektif, lebih menyentuh masyarakat miskin.
Namun memberikan bantuan secara cash pada masyarakat merupakan langkah yang terkesan panik, politis dan kurang mau repot sekaligus, untuk meredam kontraksi yang ditimbulkan oleh kenaikan harga minyak harusnya pemerintah menjamin masyarakat dengan memberi kompensasi pada barang atau jasa yang dikonsumsi oleh orang miskin, seperti subsidi pangan pada sembako, transportasi juga merupakan jasa yang lebih banyak dinikmati rakyat. Hal ini juga akan dirasakan oleh rakyat secara signifikan dibanding pemberian uang BLT yang akan menguap karena tergerus oleh tingginya harga sembako, tingginya ongkos ankutan umum dan meroketnya inflasi. tentu seperti halnya menggarami air laut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar